Jumat, 22 April 2016

paper analisis kebijakan kesehatan




ANALISIS KEBIJAKAN KESEHATAN
2H2
DI KABUPATEN FLORES TIMUR


images
OLEH:
MARIA VALENTINA J. MANUK
1507010012
2A



FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2016


ABSTRAK
Program 2H2 atau 2 hari sebelum perkiraan persalinan dan 2 hari sesudah ibu bersalin merupakan sebuah program kesehatan di Kabupaten Flores Timur dimulai pada akhir tahun 2010 tepatnya pada Bulan Oktober. Dalam proses penerapan program 2H2, pihak utama yang pertama kali menjadi inisiator adalah kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Flores Timur yaitu Bapak dr. Yosep Usen Aman. Program ini dilatarbelakangi oleh tingginya angka kematian ibu dan anak. Program 2H2 bertujuan untuk menurunkan Angka Kematian Ibu dan Anak di Kabupaten Flores Timur melalui meningkatkan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan yang memadai.
 Program ini dilaksanakan melalui koordinasi antara tim 2H2 dengan melibatkan informasi timbal balik antara Dinas Kesehatan, Camat, Kepala Puskesmas, Bikor (Bidan Koordinator) sampai ke tingkat desa.Sejak program 2H2 diterapkan, terlihat kemajuan nyata. Di tahun 2009, terdapat 14 kasus kematian ibu melahirkan. Angka itu mengalami penurunan signifikan dua tahun setelah adanya 2H2 Center yakni 10 kasus di tahun 2010 dan 6 kasus di tahun 2011.
  Secara garis besar penyelenggaraan program 2H2 mencakup beberapa aktivitas.
Pertama, mempersiapkan sarana kesehatan yang dipergunakan dalam gerakan 2H2. Dilakukan melalui kerjasama dengan rumah sakit atau puskesmas terdekat untuk rujukan ibu hamil yang akan melahirkan. Kedua, melakukan pemantauan kondisi ibu hamil 2 hari sebelum waktu tafsiran partus dan 2 hari sesudah persalinan. Ketiga, komunikasi untuk pemantauan dilakukan melalui jaringan telepon selular. Keempat, memfungsikan jaringan komunikasi untuk pemantauan dan penyediaan transportasi (2H2 Center, RSUD, dan masyarakat). Kelima, membantu merujuk ibu hamil menuju sarana kesehatan.
Pihak yang yang paling memperoleh manfaat dari program ini adalah ibu hamil. Ibu hamil lebih merasa aman saat bersalin, serta meningkatnya pengetahuan tentang perilaku hidup bersih dan sehat dan kewaspadaan terhadap ancaman penyakit menular dan ancaman bencana. Keberhasilan program 2H2 ini juga terlihat dari penghargaan yang diperoleh dari ajang bergengsi Indonesia Milenium Development Goals Award (IMA).



PENDAHULUAN
Pemerintah indonesia saat ini sedang membenah diri dalam mewujudkan pembangunan di Indonesia. Bidang kesehatan menjadi prioritas utama pemerintah untuk menurunkan problema kemiskinan melalui kebijakan peningkatan pelayanan kesehatan dalam rangka menekan angka kematian. Poin utama sebagai upaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan adalah menciptakan persalinan aman bagi ibu hamil.Terjadinya kematian ibu dan anak bisa disebabkan oleh faktor penyebab langsung dan penyebab tidak langsung. Adapun faktor penyebab langsung kematian ibu di Indonesia masih didominasi oleh pendarahan, eklampsia, dan infeksi. Sedangkan faktor tidak langsung penyebab kematian ibu karena masih banyaknya kasus 3 Terlambat dan 4 Terlalu, yang terkait dengan faktor akses, sosial budaya, pendidikan, dan ekonomi.
 Provinsi NTT telah mencanangkan gerakan revolusi KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) dalam rangka menurunkan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Anak serta mendukung pencapaian target Millenium Development Goals (MDGs). Meskipun demikian, pelaksanaan di level permasalahan kabupaten dan kota bervariasi, tergantung kondisi wilayah dan kemampuan daerah. Di Kabupaten Flores Timur, gerakan revolusi KIA belum maksimal karena terhambat rendahnya jangkauan akses masyarakat terhadap sarana dan tenaga kesehatan. Terdapat banyak faktor yang menjadi penyebab kematian ibu dan anak pada saat melahirkan di Kabupaten Flores Timur, di antaranya faktor aksesbilitas menuju sarana kesehatan, pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan masih rendah.
Berdasarkan data Kabupaten Flores Timur, angka kematian ibu tahun 2009 sebesar 316 per 100.000 kelahiran hidup dan tahun 2008 sebesar 317 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini masih tergolong tinggi dari target nasional sebesar 150 per 100.000 kelahiran hidup. Tidak hanya itu, angka kematian bayi di Kabupaten Flores Timur pada tahun 2009 juga mengalami peningkatan menjadi 16,9 per 1.000 Kelahiran Hidup dari 14,15 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2008. Angka ini masih di bawah standar nasional yaitu 40 per 1.000 kelahiran hidup. Maka dari itu, Kabupaten Flores Timur melalui Dinas Kesehatan, dr. Yosep Usen Aman, melaksanakan gerakan revolusi KIA yang dilaksanakan pada Bulan Oktober melalui Gerakan Keselamatan Ibu - 2H2 Ibu Selamat Bayi Selamat.
METODE PENULISAN
Metode yang di gunakan penulis yaitu browsing internet, melalui situs website kabupaten flores timur.
PEMBAHASAN
Pelaksanaan Gerakan 2H2 dimulai pada bulan Oktober tahun 2010. Perencanaannya sudah dimulai pada Bulan Maret 2010 dengan langkah awal revolusi KIA yang dicanangkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Flores Timur. Konsep revolusi KIA adalah gerakan moral dan teknis dalam rangka mengajak seluruh pihak, baik di sarana pelayanan kesehatan pemerintah maupun swasta, masyarakat umum serta tokoh agama untuk peduli pada ibu hamil, terutama pada masa-masa kritis guna mencapai tujuan bersama yaitu ibu selamat bayi selamat. Gerakan 2H2 bertujuan untuk menurunkan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Anak di Kabupaten Flores Timur. Upaya yang ditempuh adalah meningkatkan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan yang memadai dengan cara melakukan monitoring secara ketat terhadap perkembangan ibu hamil yang akan melahirkan dengan melakukan pendampingan sampai ibu melahirkan.
Upaya ini sebagai solusi masalah 3 Terlambat, terlambatnya keputusan di rumah, terlambat proses menuju sarana pelayanan dan terlambat pertolongan di sarana kesehatan. Melalui monitoring perkembangan bayi baru lahir, untuk dilakukan pendampingan dan membantu ibu dalam perawatan dan penanganan bayi yang bermasalah kesehatan, serta adanya peningkatan persalinan di fasilitas kesehatan yang memadai (RSUD dan Puskesmas PONED). Masalah 3 Terlambat di atas melatarbelakangi lahirnya konsep gerakan moral yaitu Gerakan 2H2 yang dinisiasi oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Flores Timur, dr. Yosep Usen Aman. Selain itu, terdapat pertimbangan lain yang melatarbelakangi Gerakan 2H2. Pertama, sebagai bentuk perwujudan revolusi KIA yang dicanangkan Pemerintah Provinsi NTT. Kedua, tingginya Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Anak. Ketiga, sulitnya jangkauan akses masyarakat, khususnya ibu hamil, di Kabupaten Flores Timur untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Oleh sebab itu, untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut diterapkan Gerakan 2H2.
Program Gerakan 2H2 berupaya mendorong kewaspadaan terhadap ibu hamil dengan melakukan monitoring ketat. Oleh sebab itu, untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut diterapkan Gerakan 2H2. Program Gerakan 2H2 berupaya mendorong kewaspadaan terhadap ibu hamil dengan melakukan monitoring ketat melalui SMS pada masa rentan, yaitu 2 hari sebelum perkiraan persalinan dan 2 hari sesudah ibu bersalin. Pelaksanaan Gerakan 2H2 diawali dengan langkah-langkah persiapan. Pertama, mengidentifikasi kondisi masyarakat penerima pelayanan melalui pendataan ibu hamil dan tempat tinggalnya, orang-orang yang berpengaruh terhadap ibu hamil (ibu hamil, suami, dan keluarga) untuk menentukan fasilitas kesehatan untuk bersalin, dan menilai kemampuan ekonomi keluarga supaya dapat membawa ibu hamil ke fasilitas kesehatan yang memadai. Kedua, mengidentifikasi institusi pemberi pelayanan, seperti fasilitas kesehatan yang mempunyai kemampuan memberikan pelayanan memadai. Fasilitas kesehatan harus bersedia mengantarkan ibu yang telah melahirkan kembali ke rumahnya dan memberikan pelayanan ibu pasca persalinan di rumahnya. Ketiga, menyusun perencanaan pelaksanaan kegiatan melalui tahap sosialisasi konsep Gerakan 2H2, pengorganisasian, pelaksanaan kegiatan teknis dan non teknis, melakukan monitoring di lingkungan internal petugas kesehatan (Dinkes, rumah sakit, Puskesmas) dan lintas sektor (BPMD, Kecamatan, tokoh agama, Desa/Kelurahan Siaga) serta pemantauan.
 Selanjutnya, dilakukan sosialisasi yang melibatkan peran masyarakat Desa Siaga melalui SMD dan MMD. Di samping itu, mendorong komitmen semua unsur terkait dan dipastikan memiliki hand phone. Berikutnya, membuka hot line 24 jam pada nomor 082114579106. Dengan demikian, 70% desa dari 209 desa dan 90% dari 18 buah Puskesmas yang ada harus terjangkau sinyal alat komunikasi serta memenuhi kebutuhan 2H2 Center .
Implementasi Gerakan 2H2 strategis karena sejalan dengan Peraturan Gubernur Nusa Tenggara Timur No. 42 Tahun 2009, Bab I, Pasal 1, ayat 4, bahwa “upaya yang sungguh-sungguh untuk percepatan penurunan kematian ibu melahirkan dan bayi baru lahir dengan cara-cara yang luar biasa”. Tidak hanya itu, dalam pelaksanaan Gerakan 2H2, pemerintah setempat mendapat dukungan dari Program Kemitraan Australia Indonesia untuk Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir (AIPMNH). Dalam Buletin Kemitraan AIPMNH Edisi Mei 2012, Joria Parmin (Kepala 2H2 Center) mengatakan bahwa, seluruh masyarakat mendukung penuh
program ini.
Dukungan AIPMNH berupa bantuan yang diberikan kepada tenaga kesehatan dalam jejaring 2H2, mulai dari desa, Puskesmas sampai rumah sakit. Dukungan AIPMNH tersebut merupakan konsolidasi gagasan di tingkat jajaran Pemda Kabupaten Flores Timur, Pemprov NTT. Dari jajaran konsolidasi yang ada, tidak ada hambatan dan tantangan. Namun demikian, dalam mensosialisasikan Gerakan 2H2 diperlukan kerja keras supaya masyarakat peduli membantu sesama. Untuk itu, pemerintah melakukan pendekatan persuasif kepada masyarakat dan mengajak seluruh pihak seperti tokoh agama dan pihak swasta untuk ikut mensukseskan Gerakan 2H2.


ARGUMEN
Kebijakan yang canangkan oleh dinas kesehatan kabupaten flores timur ini merupakan langkah yang baik dalam menekan angka kematian ibu dan anak di kabupaten flores timur. Program 2H2 di Kabupaten Flores Timur sangat berpeluang untuk direplikasi di daerah lain dengan memperhatikan kondisi setempat. Pasalnya, hampir semua daerah khususnya daerah terpencil memiliki permasalahan yang sama yaitu sulitnya mengakses fasilitas kesehatan. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Flores Timur, Yosep Usen Aman kepada wartawan di Larantuka, mengatakan, program ini menjadi salah satu program cerdas yang sebelumnya juga telah diadopsi oleh PNPM yang dibiayai Bank Dunia dan Distric Help Service (DHS) yang dibiayai oleh ADB.
Dalam pelaksanaan Gerakan 2H2 kebutuhan dasar yang harus dipenuhi adalah ketersediaan jaringan komunikasi karena pemantauan dilakukan melalui pengiriman pesan singkat (SMS) kepada Bidan Koordinator, Camat dan Kepala PuskesmasDalam pelaksanaan Gerakan 2H2 kebutuhan dasar yang harus dipenuhi adalah ketersediaan jaringan komunikasi karena pemantauan dilakukan melalui pengiriman pesan singkat (SMS) kepada Bidan Koordinator, Camat dan Kepala Puskesmas. Selain itu, juga tersedia tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan. Sementara itu, kelompok pendukung juga memegang peranan vital, mengingat basis Gerakan 2H2 adalah masyarakat. Keberadaan kelompok pendukung seperti pemerintah desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan LSM sangat membantu keberlanjutan program. Selain itu, keberadaan lembaga internasional seperti AIPMNH cukup penting, sebagai pihak yang dapat memfasilitasi program 2H2. Lembaga tersebut dapat dijadikan salah satu sumber pendanaan.
Supaya Gerakan 2H2 berkelanjutan, dibutuhkan partisipasi dari berbagai pihak terutama pemerintah dan masyarakat. Jika melihat dari sisi biaya, tidak dibutuhkan dana besar sehingga Gerakan 2H2 sangat mungkin untuk direplikasi. Meskipun demikian, bukan berarti tanpa tantangan. Penyelenggaraan Gerakan 2H2 menghadapi tantangan aksesbilitas masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Seperti belum optimalnya pemerataan pelayanan kesehatan karena kekurangan SDM yang kompeten sehingga perlu kegiatan pelatihan dalam pemberdayaan masyarakat dan legitimasi dari pemerintah. Kegiatan pelatihan dan legitimasi Pemerintah pada tahun 2011 membuat Kabupaten Flores Timur mampu meraih penghargaan MDGs.
SIMPULAN
Program 2H2 (2hari sebelum perkiraan persalinan dan 2 hari sesudah ibu bersalin) merupakan suatu progamm kesehatan yang dikeluarkan oleh dinas kesehatan kabupaten flores timur. Program ini juga merupakan  program yang dijabarkan dari  Refolusi KIA yang di keluarkan  oleh pemerintah propinsi NTT.Dari Gerakan 2H2 di Kabupaten Flores Timur ini dapat ditarik beberapa nilai yaitu dengan adanya program 2H2 dapat menumbuhkan komitmen masyarakat untuk menyelamatkan nyawa ibu hamil dan bayi baru lahir, mempererat hubungan solidaritas semua pihak yang terlibat didalamnya,dapat menjalin kerja sama yang baik antara pihak pemerintah maupun pihak swasta.
 Dari nilai-nilai yang dibangun inilah program ini dapat berhasil. Terbukti Di tahun 2009, terdapat 14 kasus kematian ibu melahirkan. Angka itu mengalami penurunan signifikan dua tahun setelah adanya 2H2 Center yakni 10 kasus di tahun 2010 dan 6 kasus di tahun 2011. Selain itu Kegiatan pelatihan dan legitimasi Pemerintah pada tahun 2011 membuat Kabupaten Flores Timur mampu meraih penghargaan MDGs.


  











REFERENSI
Pofil Dinas Kesehatan Flores Timur Tahun 2009.
http://psflibrary.org/catalog/repository/Indonesia%207th%20Edition%20Generasi%20Newsletter.pdf
http://timorexpress.com/index.php/index.php?act=news&nid=44962,
http://silverius-koten.blogspot.com/,
http://igi.fisipol.ugm.ac.id gerakan keselamatan ibu flores timur